Darah Ditemukan dalam Fosil Nyamuk – Merusak Asumsi Evolusi

shares



Ilustrasi 


Baru-baru ini ditemukan seekor nyamuk yang terfosilisasi, yang membuat sebagian ilmuwan mempertanyakan ulang umur fosil dan lapisan batu yang selama ini diasumsikan. National Academy of Sciences baru-baru ini mempublikasikan sebuah artikel jurnal yang ditulis oleh lima ilmuwan Amerika dan Eropa. Paper 5 halaman itu mendetilkan penemuan seekor nyamuk yang terpelihara baik dalam bentuk fosil di Formasi Kishenehn di Montana. Yang luar biasanya, fosil tersebut mengandung jejak-jejak darah yang terpelihara – suatu fitur yang digambarkan oleh para penemunya sebagai “jarang” dan “unik.”

Artikel jurnal itu menjelaskan bahwa “preservasi fosil nyamuk betina itu. . . adalah suatu kejadian yang cukup tidak mungkin.” “Serangga itu harus minum darah tidak lama sebelumnya, lalu terlempar ke atas permukaan air, lalu tenggelam ke dasar dari danau atau struktur serupa lainnya, dan dengan cepat terbenam dalam sedimen anaerobik yang halus, semuanya itu tanpa merusak perutnya yang rapuh dan gendut karena penuh darah.”

Nyamuk yang penuh darah itu ditemukan di lapisan sedimen batu shale, yang diklaim oleh para geologis berusia 46 juta tahun. Jadi, menurut para penemu fosil, spesimen nyamuk ini terfosilisasi 46 juta tahun yang lalu, lengkap dengan darahnya. Tetapi banyak ilmuwan yang terkejut bahwa darah bisa bertahan selama periode waktu yang begitu panjang.

Jadi, kesimpulan yang benar adalah bahwa fomasi batu shale di Montana itu sebenarnya jauh lebih muda dari yang diperkirakan. Brian Thomas, penulis ilmu pengetahuan di Institute for Creation Research (ICR), mengatakan bahwa darah nyamuk tidak mungkin bisa bertahan selama 50 juta tahun. Dia berkata bahwa para ilmuwan memperkirakan umur spesimen itu dengan mengkorelasikan fosil kepada data yang terdaftar di tabel geologi standar. Sedangkan umur batu diperkirakan dari fosil yang bisa ditemukan di dalamnya.

“Laporan baru-baru ini tentang [darah] asli . . . di dalam fosil nyamuk yang ditemukan di Forrmasi Kishenehn, mendapatkan usia mereka melalui pemikiran berputar (circular reasoning),” jelas Thomas. “[Tim penemu] menegaskan bahwa fosil itu berusia 46 juta tahun karena Formasi Kishenehn ditenggarai setua itu (walaupun referensi yang mereka kutip ada dua umur – 43 dan 46 juta tahun, dan masing-masing di luar dari batas kesalahan yang lainnya). Dan bagaimanakah mereka tahu Formasi itu setua itu? Mereka menyocokkannya dengan fosil yang ada di tabel geologi untuk mengindikasikan usia.”

Thomas memberitahu bahwa “tidak ada bukti ilmiah bahwa grup hemoglobin dapat bertahan, dalam preservasi yang bagaimana pun juga, untuk bahkan satu juta tahun, jangankan banyak juta tahun.” Thomas juga menyinggung bahwa bebatuan shale yang mengandung fosil nyamuk itu kaya akan minyak. “Seperti darah, minyak juga bersifat organik. Seperti darah, minyak organik “seharusnya sudah terdegradasi sejak lama, terutama mempertimbangkan betapa agresifnya bakteri pemakan minyak,” dia berkata.

“Pada akhirnya,” Thomas menyimpulkan, “dogma ‘jutaan tahun’ tidak didukung oleh substansi ilmiah sejati, tetapi menjadi otoritas akhir bagi para geolog yang tidak mau kehilangan pekerjaan mereka di bidang ilmu yang telah tersekularisasi.”


sumber :http://graphe-ministry.org/articles/2013/10/darah-ditemukan-dalam-fosil-nyamuk-merusak-asumsi-evolusi/

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar