Wajah Hancur akibat senjata dan di transplantasi

shares

Jangan pernah bermain-main dengan Senjata ,karena jika bukan anda yang terluka maka orang lain akan menjadi korbannya dan hal ini pun dialami  Richard Norris




Seperti di kutip dari liputan6 Sebuah kecelakaan senjata pada 1997 membuat wajah Richard Norris porak-poranda. Dalam arti sebenarnya. Ia kehilangan semua gigi, hidung, bibir, dan kemampuan gerak mulutnya. Meski masih bisa mencecap rasa, ia tak mampu menghirup bau.

Sejak saat itu ia jarang keluar rumah. Kalaupun beranjak dari rumah, biasanya di malam hari, Richard menyembunyikan wajahnya di balik topi dan masker.





Dibutuhkan 15 tahun, menjalani proses operasi, transplantasi, dan terapi , hingga akhirnya ia mendapatkan hidupnya kembali.

Selama itu juga, pria dari wilayah pedesaan di barat daya Virginia mengadapi penghinaan dari orang-orang yang bertemu dengannya, mengatasi dorongan tak tertahankan untuk melakukan bunuh diri.

Namun, jika bisa mengubah masa lalunya, Richard tak akan menghapus momen kecelakaan yang membuat wajahnya hancur. Sebab, justru karena itu, ada banyak hikmah yang ia dapatkan.

"Masa 10 tahun itu bagai neraka, namun memberiku banyak pengetahuan berharga," kata dia, seperti dimuat News.com.au, Senin (1/7/2013). "Meski seakan tak nyata. Saat itu justru menghadirkan banyak orang-orang terbaik dalam hidupku."

Kini, di usianya ke-38, Richard memulai hidup baru: mengambil kelas online untuk mengejar gelar di bidang sistem informasi, mewujudkan gagasan membangun yayasan untuk membantu membiayai biaya perawatan pasien transplantasi di masa depan.

Bekerja sama dengan seorang jurnalis foto, ia juga menyelesaikan buku tentang perjalanan hidupnya, berjudul The Two Faces of Richard.

Richard berharap, kisahnya akan menyebarkan harapan bagi orang-orang yang menghadapi situasi yang sama. Juga untuk mendorong empati terhadap orang lain.



Puluhan Operasi

Richard Norris menjalani puluhan operasi untuk memperbaiki wajahnya. Menurut salah satu dokter yang menanganinya, Eduardo Rodriguez, operasi yang dilakukan sampai-sampai melampaui batas apa yang bisa dilakukan operasi konvensional.

Sejumlah bagian anatomi wajahnya, seperti kelopak mata dan bibir, terlalu kompleks untuk diciptakan. "Bisa saja menciptakan sesuatu yang mirip, namun saya tak bisa menjamin itu berfungsi semestinya." Lalu, Rodriguez menawarkan opsi lain: transplantasi.

Kala itu, transplantasi wajah pertama dilakukan di Prancis pada 2005, pada seorang perempuan Prancis yang wajahnya dikoyak anjing. Diikuti 27 operasi transplantasi lain -- saat 4 pasien tewas, dan mereka yang selamat harus tergantung dengan obat imunosupresan, yang bisa membahayakan kesehatan mereka.

Tidak seperti kebanyakan penerima transplantasi organ, yang membutuhkan operasi agar tetap hidup, Richard menghadapi risiko kematian demi kondisi yang sebenarnya tak mengancam jiwanya. Demikian catatan Mark Ehrenreich, konsultan psikiatri dalam tim transplantasinya.

Rodriguez mengatakan, pasiennya tahu benar soal risiko itu. "Jika Anda bicara dengan pasien seperti Richard, mereka akan mengatakan, risiko itu (mati) layak untuk dihadapi."

Untuk kasus Richard, peluangnya untuk selamat dari operasi adalah 50:50.

Untungnya, Richard Norris mendapatkan organ tubuh dari Joshua Aversano (21), yang meninggal disambar mobil van saat menyeberang jalan. Keluarganya di Maryland setuju untuk mendonorkan organ Joshua.

Sebagai perwujudan rasa terima kasih tak terkira, Richard selalu menghubungi keluarga donornya secara rutin, mengabarkan kondisi kesehatan dan juga tentang hidupnya. Ia kini memiliki keluarga baru.

Transplantasi 36 Jam

Operasi transplantasi Richard berlangsung selama 36 jam. Ini operasi paling ekstensif yang pernah dilakukan karena termasuk transplantasi gigi, rahang atas dan bawah, sebagian lidah, dan semua jaringan dari kulit kepala ke pangkal leher.

"Keterbatasan yang ia alami adalah nyata...pasien harus tergantung dengan obat seumur hidup," kata Rodriguez.

Obat-obat imunosupresan membawa risiko bagi pasien. Rodriguez mengatakan, jika semuanya berjalan dengan baik, wajah yang ditransplantasikan dapat bertahan 20 sampai 30 tahun.

Ketakutan itu pun mendera Richard Norris di awal-awal pascaoperasi. Menunggu kepastian apakah operasinya berhasil atau sebaliknya, gagal.

"Setiap hari aku bangun dengan rasa takut yang sama. Apakah hari itu akhirnya tiba? Hari di mana penolakan tubuhku begitu parah, yang dokter tak bisa mengubahnya," kata dia.

Namun, atas dorongan dari para dokter -- bahwa ia tak perlu khawatir berlebih, berangsung-angsur Norris kembali tenang.

Dan selama 15 bulan berikutnya, belajar makan dan bicara. Lalu menyesuaikan dengan sensasi yang kembali hadir di wajahnya.

Lalu berlanjut dengan terapi, menempuh perjalanan ke Baltimore dari rumahnya di Hillsville, Virginia, secara teratur ke dokter. Dan masih rutin mengonsumsi obat imunosupresan.

Selain keyakinan pada dokter yang menanganinya, Richard mengaku, imankepada Tuhan telah membawanya melalui semua penderitaan itu. Ia juga berhasil mempertahankan rasa humor yang membuat hidupnya ceria.

Dan dia setuju dengan dokter, yang menolak keyakinan umum bahwa pasien transplantasi wajah cenderung mengalami krisis identitas. "Ketika bercermin, yang kulihat adalah Richard Norris, diriku sendiri,'' ujarnya.

Kemudian, masalah yang lebih besar untuk Richard adalah mampukah dia kembali tampil di depan publik.

Sebab, cacat wajah cenderung tidak menimbulkan simpati, membuat pasien merasa dijauhi. Demikian catat psikiater Ehrenreich.

Namun reaksi orang-orang di jalan, membuat Richard makin lega."Bahkan ketika wajah saya masih rusak, saat berjalan di trotoar, orang-orang tak sampai membentur tiang, saat menatapku," kata dia. Meski, orang-orang itu kerap memperbincangkan di belakangnya.

Sekarang, nyaris tak ada yang memperhatikan wajahnya. Terlihat normal seperti orang lain. "Kecuali mereka mengenal saya secara pribadi, mereka tidak tahu aku seorang pasien transplantasi wajah."


sumber :liputan6.com

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar