Mengapa Ojek Pangkalan tidak ke Go Jek ? Ini Jawabannya

shares





www.geo-geo22.blogspot.com
sumber gambar : kompas.com


Penyedia layanan jasa angkutan sepeda motor Go-Jek sedang menjadi perbincangan hangat di media sosial. Perbincangan itu terkait kejadian ketika salah satu pengendara Go-Jek mendapat teror dari tukang ojek pangkalan yang tidak menjadi rekanan Go-Jek.

Sebelumnya, sebuah posting-an beredar melalui Path dan Facebook dari pengguna bernama Boris Anggoro. Ia menceritakan, pengendara Go-Jek pesanannya diusir dan diancam oleh tukang ojek yang mangkal di dekat kantornya saat hendak menjemputnya.

Go-Jek juga telah membuat pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Dalam pernyataan yang dibuat pada Selasa (9/6/2015), Go-Jek mengatakan, pihaknya hadir bukan untuk berkompetisi dengan pengendara ojek pangkalan, melainkan untuk membantu ojek pangkalan berkembang.

Go-Jek pun mengajak semua ojek pangkalan untuk bergabung dan menikmati keuntungan-keuntungan menjadi pengendara Go-Jek. Namun, tak semua tukang ojek pangkalan tertarik untuk bergabung dengan Go-Jek.

Hal ini seperti diakui oleh seorang tukang ojek yang tidak mau namanya disebutkan saat dijumpai KompasTekno, Kamis (11/6/2015) lalu di depan pusat perbelanjaan di kawasan Senayan.

Menurut dia, bergabung dengan Go-Jek justru ribet karena sistem aturan yang digunakan, selain adanya potongan biaya yang harus disetorkan kepada pengelola Go-Jek.

"Ribet, duitnya kan dibagi dua sama yang punya (Go-Jek). Kami mending mangkal lama-lama di sini, tetapi hasilnya jelas, duit langsung dikantongin," ujarnya.

Go-Jek memang menerapkan bagi hasil untuk setiap transaksi tunai dengan layanannya. Pembagian tersebut adalah 80 dan 20 persen. Sebanyak 20 persen untuk perusahaan, lalu 80 persen untuk karyawan itu sendiri. 

"Belum lagi mikir cicilan HP-nya, ribet ah," katanya lagi. Go-Jek dalam operasinya memang menggunakan aplikasi di smartphone. Untuk bergabung dengan Go-Jek, pengendara dibekali smartphone yang disediakan oleh Go-Jek. Pengendara pun membayar smartphone tersebut dengan sistem cicilan. 

Selain itu, bentuk pembayaran lainnya menggunakan Go-Jek Credit. Pelanggan bisa melakukan top-up dengan pulsa untuk transaksi. Dari deposit itu, bagian pendapatan untuk pengojek hanya bisa diambil jika datang langsung ke kantor Go-Jek.

Uang yang tidak terlihat itu (Go-Jek Credit) juga menjadi alasan kenapa tukang ojek pangkalan masih enggan menjadi rekanan Go-Jek. "Kalau gini (mangkal) kan enak, habisnganter langsung dapat duitnya," kata tukang ojek tadi.

Sementara itu, tukang ojek lain yang dijumpai KompasTekno yang juga sering mangkal di kawasan Palmerah beralasan bahwa dengan Go-Jek, ia tidak bisa negosiasi soal harga jasa layanan yang ditawarkan.

"Soalnya (kalau pakai Go-Jek) ngga bisa nawar. Kan kalau pakai Go-Jek, Go-Jeknya yang udah nentuin tarifnya," katanya.

Model transaksi non-tunai tampaknya masih menjadi kendala bagi pengendara ojek pangkalan untuk bergabung dengan Go-Jek. Padahal, menurut pengakuan salah satu pengendara Go-Jek, ia merasa lebih untung dengan bergabung ke pengelola layanan itu.

Hal ini seperti dituturkan oleh Muhammad Nizar (47) kepada Kompas.com. Nizar mengaku bahwa dengan pekerjaannya di Go-Jek dari hari Senin sampai Minggu, pendapatannya per bulan rata-rata bisa mencapai angka Rp 4 juta. Jam kerjanya pun lebih fleksibel.

Sementara itu, pengendara Go-Jek lain bernama Tinus juga mengaku, bergabung dengan Go-Jek lebih enak. Waktunya tidak terbuang hanya untuk mangkal. Ia pun bisa mengatur waktu untuk bersama keluarga.

"Dulu, kalau dipikir-pikir, lebih banyak mangkalnya daripada nariknya. Kalau sekarang, begitu pagi, udah ada yang mesen buat diantar ke kantornya," kata Tinus kepadaKompas.com, Rabu (10/6/2015).


Related Posts

0 comments:

Posting Komentar